Peneliti di Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Erma Yulihastin, menjelaskan bahwa hujan intensitas tinggi ini disebabkan oleh pengaruh bibit vorteks yang muncul di Borneo.
Bibit vorteks tersebut telah terpantau sejak pekan terakhir bulan November dan berkontribusi pada aktivasi angin monsun Asia yang basah dari utara.
Baca juga: PJ Walikota Pekanbaru Risnandar Mahiwa Kena OTT KPK, Baru Enam Bulan Menjabat
Perkembangan Cuaca di Wilayah Tetangga

Dalam perkembangan terkini cuaca Malaysia dan Thailand, bibit vorteks yang telah terbentuk kini berubah menjadi bibit siklon 95W. Menurut Erma, bibit ini bergerak menjauh ke utara menuju Laut Cina Selatan.
Sementara itu, bibit vorteks lainnya terpantau di Samudera Hindia dan Laut Jawa, yang diprediksi akan mempengaruhi curah hujan di banyak wilayah Indonesia selama dasarian pertama Desember ini.
“Hal ini akan membawa hujan persisten terutama di sebagian besar Jawa bagian barat dan tengah,” kata Erma.
Kawasan pesisir selatan Jawa juga diingatkan untuk waspada terhadap hujan dan angin kencang yang dapat menyertai fenomena ini.
Bencana banjir yang melanda Malaysia dan Thailand Selatan adalah pengingat akan dampak serius dari perubahan iklim dan cuaca ekstrem.
Dengan hujan yang turun dalam volume luar biasa dalam waktu singkat, masyarakat perlu bersiap menghadapi kemungkinan bencana serupa di masa mendatang.
Penelitian dan pemantauan yang lebih intensif diperlukan untuk mengantisipasi dan mengurangi risiko yang ditimbulkan oleh fenomena cuaca ekstrem ini.